Logo: New South Wales Government
New South Wales Government
NSW Department of Education and Training
 
 
SEARCH    
  Home Public Schools TAFE NSW Training & Industry Adult & Higher Education Employment with Us Our Policies News Room Contact Us  

indonesian_open FW: [Wa-indon] Arah Perkembangan Bahasa Indonesia: article in Jawa Pos

Wittman, Leonie Leonie.Wittman at det.nsw.edu.au
Mon Nov 14 11:09:04 EST 2005


Teman-teman yang baik

Interesting article from 7 November edition of Jawa Pos. Forwarded from
David Hill. 

 

Leonie Wittman

Senior Curriculum Adviser

Languages Special Projects

 

Languages Unit

Curriculum K-12 Directorate

NSW Department of Education & Training

3a Smalls Rd

Ryde NSW 2112

 

Tel: 61 2 9886 7681

Fax: 61 2 9886 7160

Email: leonie.wittman at det.nsw.edu.au

________________________________

From: wa-indon-bounces at central.murdoch.edu.au
[mailto:wa-indon-bounces at central.murdoch.edu.au] On Behalf Of David T.
Hill
Sent: Monday, 7 November 2005 11:48 AM
To: wa-indon at murdoch.edu.au
Subject: [Wa-indon] Arah Perkembangan Bahasa Indonesia: article in Jawa
Pos 

 

I thought members might be interested in this article from today's Jawa
Pos newspaper about the development of Indonesian.

regards,
David.
.............

Jawa Pos dotcom, Senin, 07 Nov 2005,
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=196436

Arah Perkembangan Bahasa Indonesia

Oleh David T. Hill *

Beberapa minggu lalu, saya berada di sebuah konferensi kajian Indonesia
di Universitas Flinders, Australia Selatan. Yang hadir dalam acara itu,
antara lain, seorang sarjana Jepang yang ahli sastra Sunda. Pada masa
istirahat antarsesi, kami mengobrol tentang penelitian masing-masing. 

Dia tampaknya sangat berharap bahwa arus reformasi politik dapat
menghanyutkan pula kungkungan politik yang sekian lama mewajibkan orang
Indonesia memprioritaskan bahasa Indonesia di atas bahasa daerahnya. 

Dia melihat kemungkinan akan terjadi sebuah Renaissance -suatu
pembangkitan kembali- bagi bahasa-bahasa daerah di Indonesia pada zaman
pasca-Soeharto. Dengan demikian, dari selalu dianaktirikan,
bahasa-bahasa daerah dapat berdiri tegak dan dihargai setingkat dengan
bahasa nasional.

Boleh juga barangkali. Tapi, saya ingin melontarkan sebuah visi masa
depan lain, yang barangkali agak bertentangan dengan harapan teman saya
itu. 

Saya malah melihat, kecenderungan bahasa Indonesia tambah kacau dan
bervariasi belakangan ini. Dulu rezim Soeharto "memperkaya" bahasa
Indonesia dengan istilah-istilah setengah Sansekerta atau menggarap
sumber bahasa Jawa Kuno untuk istilah baru yang diIndonesiakan
(misalnya: Bina Graha). 

Pengamat politik menganalisis masalah itu sebagai upaya pemerintah untuk
mengambil alih kewenangan dan mewarisi kemegahan linguistik zaman emas
Kerajaan Majapahit. Dengan memobilisasi istilah hierarkis dari zaman
dulu, nepotisme dan korupsi zaman edan Orba seakan-akan terlupakan oleh
masyarakat! Tapi, tindakan itu tidak dimulai Orba. Soekarno pun suka
melakukannya, misalnya saja istilah "Pancasila".

Sarjana Australia Keith Foulcher menulis bahwa Pusat Bahasa di Jakarta
suka memakai "kosakata Sansekerta dari bahasa Jawa Kromo" sebagai sumber
istilah baru. 

Akibatnya, "birokrat dan para teknokrat, melalui bahasa yang mereka
gunakan, diasosiasikan oleh rasa otoritas dan rasa hormat yang merupakan
ciri Keraton Jawa dan kebudayaan priayi."

Selain itu, dari waktu ke waktu, juga diadakan semacam razia
anti-Inggris atau antibahasa asing. Pejabat tinggi Orba pernah berusaha
melarang perusahaan Indonesia memakai nama yang berbau "asing" (artinya:
Inggris) sebagai nama perusahaan atau produknya. Jadi nama hotel, pub,
atau barang terpaksa diIndonesiakan. 

Para ahli linguistik pada masa itu secara masal menyalahkan usaha
tersebut sebagai upaya yang pasti akan gagal. "Tidak dapat kita lawan
arus organik perkembagan bahasa," kata mereka. 

Dalam sebuah masyarakat, orang akan memakai istilah ataupun corak bahasa
yang memenuhi keperluan mereka. Tidak dapat direkayasa para pejabat.
Pengaruh asing tidak dapat dihapuskan begitu saja dari leksikon
pemakaian sehari-hari.

Sekarang perkembangan bahasa tidak dapat diarahkan. Kalau kita melihat
dampak pemakaian internet pada kalangan muda Indonesia, jelas bahwa
bahasa Inggris tetap mendominasi mekanisme komunikasi tersebut. Dalam
dunia komputer pada umumnya, bahasa Inggris luar biasa besar dampaknya. 

Walaupun telah diciptakan istilah Indonesia untuk keyboard, software,
hardware dsb, istilah Inggris tetap dipakai dan sering terasa lebih
gengsi dibandingkan dengan papan ketik, peranti lunak, peranti keras,
dsb.

Istilah internet, seperti log-on, download, save, input, data, chat,
relay, e-mail, domain, dan sejuta kata lagi telah membudaya dalam dunia
internasional, apa pun bahasa ibu yang terpakai dalam kawasan tertentu.

Pengaruh bahasa Inggris itu tidak hanya kelihatan dalam kosa kata
komputer. Kalau menonton siaran berita di TVRI, kita akan mendengar
istilah, seperti illegal logging, illegal fishing, mengadakan scanning,
town square, stakeholder, reshuffle kabinet, mafia pengadilan, dan
lainnya. Semua tanpa terjemahan Indonesia. 

Belakangan dalam koran daerah pun muncul istilah seperti kasus mark up
pengadaan mobil dinas, cash transfer, enjoy, nomorsatukan crash
program, aspirasi diseriusi SBY. 

Jelas disimpulkan oleh redaksi media tersebut bahwa para penonton
ataupun pembaca mereka sudah biasa dengan istilah Inggris sehingga tidak
perlu dijelaskan lagi. Apakah pembelajaran bahasa Inggris di sistem
sekolah Indonesia telah begitu luas dan efektif sehingga semua penonton
berita TVRI ataupun pembaca koran daerah sudah mengerti? 

Pengaruh seperti itu tidak hanya pada bahasa lisan, tetapi juga pada
bahasa badan. Beberapa tahun lalu, seorang budayawan Indonesia mengeluh
bahwa anaknya yang ABG telah mengadopsi gerak-gerik meniru apa yang
ditonton dalam acara TV Amerika lengkap dengan sapaan "Hi-5", bukan lagi
jabat tangan atau sapaan yang lebih "Indonesia". 

Kalau anak itu ingin mencaci-maki atau mengutuk, yang diucapkan "Shit"
atau yang lebih kasar lagi dalam bahasa Inggris, tidak lagi menggunakan
istilah yang sama kasarnya tapi lebih khas akar Indonesianya!

***

Apakah kecenderungan itu dapat dilawan? Menurut Benedict Anderson, ahli
kebudayaan Indonesia di Universitas Cornell, AS, (yang menulis dalam
Ejaan Soewandi) "Bahasa tidak gampang dimonopoli oleh (negara karena)
tukang-tukang penjelundup, pengimpor gelap, maling dan bandit bahasa
lokal, remaja-remaja jang gile, intelektual nakal, geng-geng residivis
dan hombreng, semuanja selalu aktip menggerogoti kedikaturan negara.
Bukan itu sadja. Polisi kamus sama sekali tidak berdaja terhadap
bahasa-bahasa lisan jang dipakai sehari-hari oleh rakjat dan seribu satu
variasinja.

Suka atau tidak, dengan arah perkembangan bahasa Indonesia, sudah jelas
tiada lembaga ataupun pemerintah yang dapat membendung arus penciptaan
kata-kata ataupun struktur linguistik baru karena itu menyentuh aspek
komunikasi yang organik. 

Barangkali justru vitalitas bahasa Indonesia inilah yang akan tetap
mengalahkan munculnya kembali bahasa-bahasa daerah dalam konstelasi
sosio-politik pasca-Soeharto.


* David T. Hill, guru besar Kajian Asia Tenggara di Universitas Murdoch,
Australia Barat
 



........................................................................
............
Professor David T. Hill
Chair of Southeast Asian Studies
School of Social Sciences and Humanities
Division of Arts
MURDOCH UNIVERSITY WA 6150
AUSTRALIA 

I am best contacted today on mobile 04 3836 2798 or (08) 9433 3558.

tel: (+61-8) 9360 2412 (direct); 9360 2504 (School office)
fax: (+61-8) 9360 6575
........................................................................
......... 

-------------- next part --------------
An HTML attachment was scrubbed...
URL: http://www.schools.nsw.edu.au/pipermail/indonesian_open/attachments/20051114/d3f01e22/attachment-0010.html


More information about the Indonesian_open mailing list

  Logo: NSW Department of Education and Training
Language Support Translated Documents | Terms & Conditions | Privacy | Site Map | Copyright | Help | Accessibility
NSW Government | jobs.nsw
|